Saat proses pemulihan pariwisata sudah bisa dimulai, maka Kemenpar akan fokus pada penanganan sumber daya manusia setelah itu penataan destinasi yang terdampak serta pemasaran atau promosi. Termasuk menyiapkan dana pemulihan seperti yang disiapkan di Bali dan Lombok. “Sekarang evakuasi dulu nomor satu,” kata Menpar Arief Yahya.
Menurut Menpar Arief, bencana gempa tentunya akan berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan. Tidak hanya ke kunjungan daerah lokasi bencana, tapi Indonesia secara keseluruhan. Seperti saat erupsi Gunung Agung di Bali, dimana dampak langsung ke Bali mencapai 500 ribu wisatawan namun secara nasional juga mencapai 500 ribu wisatawan. Begitu juga saat gempa Lombok, dampak yang langsung kunjungan wisatawan ke Lombok mencapai 10 ribu namun secara nasional mencapai 100 ribu wisatawan yang membatalkan perjalanannya ke Indonesia.
“Itu bisa dimengerti, karena wisatawan tidak tahu dimana lokasi Bali atau Lombok. Tapi yang mereka tahu adalah Indonesia,” kata Menpar Arief Yahya.
Terkait dengan _Travel Advisory_ yang dikeluarkan sejumlah negara, Menpar Arief Yahya mengatakan bahwa itu adalah hal yang wajar bila banyak negara mengeluarkan peringatan jika terjadi satu bencana di satu negara. “Kita menghargai negara-negara yang keluarkan _travel advisory_ dan kita memang berkewajian untuk tidak mempromosikan destinasi yang terkena bencana. Sama sekali kita drop semua terkait promosi,” jelas Menpar Arief Yahya.
Menpar Arief Yahya memastikan bahwa selain Palu dan Donggala yang menjadi lokasi bencana saat ini, destinasi lain di Indonesia aman untuk dikunjungi. “Pulau Jawa secara umum, Bali aman dan silakan ke Indonesia. Wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia dan Indonesia rata-rata 1,5 juta tiap bulannya,” kata Menpar Arief Yahya.