Di bidang Kebudayaan, ada empat program utama yang berhasil dijalankan dengan baik dan sesuai target.
Pertama, Revitalisasi Desa Adat, dengan realisasi sesuai target, yaitu 139 desa; kedua, Pelestarian Cagar Budaya, dengan realisasi sesuai target, yaitu 3.375 unit; Fasilitasi Komunitas Budaya dengan realisasi sesuai target, yaitu 334 komunitas; dan Revitalisasi Museum dengan realisasi 17 museum dari target 24 museum.
Program-program di bidang kebudayaan itu mendukung turut memperteguh ke-Bhinneka-an dan memperkuat restorasi sosial di Indonesia, termasuk program di bidang bahasa, antara lain menambah lema (kosakata) dalam kamus, serta pengembangan istilah.
Mendikbud menuturkan, Kemendikbud juga melakukan penguatan tata kelola dan partisipasi publik dengan capaian berupa status integritas dari KPK yang menyatakan Kemendikbud sebagai wilayah bebas dari korupsi (WBK), serta indeks kepuasan pemangku kepentingan yang mencapai angka 77.
Selain itu, sesuai amanat Presiden Joko Widodo, yaitu “Membangun dari Pinggiran”, Kemendikbud juga memiliki program Sekolah Garis Depan (SGD) dan Guru Garis Depan (GGD) di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
“Sekolah Garis Depan adalah perwujudan Nawa Cita ke-3 dengan pembangunan sekolah di daerah 3T,” tutur Mendikbud.
Hingga saat ini, Kemendikbud telah membangun 114 SGD yang tersebar di 49 kabupaten/kota. Sementara program GGD merupakan pengiriman guru ke daerah 3T sebagai salah satu upaya pemerataan distribusi guru. Pada tahun 2016, Kemendikbud telah mengirim 6.2.96 guru dalam program GGD.
Dalam konferensi pers akhir tahun 2016, Mendikbud Muhadjir Effendy didampingi para pejabat eselon 1 dan 2 Kemendikbud. Mereka yang hadir antara lain Sekretaris Jenderal Didik Suhardi, Inspektur Jenderal Daryanto, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Totok Suprayitno, dan Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid.(Ebenezer Sihotang)