Kodam XVII/Cenderawasih Tanggapi Laporan Amnesty Internasional Tentang 100 Orang Warga Papua Tewas

Lintas Jabodetabek583 kali dibaca

Kasus lain, lanjut Kapendam, sekelompok orang melaksanakan demonstrasi menuntut merdeka pisah NKRI dan nyata-nyata merongrong kedaulatan Negara, kemudian berhadapan dengan aparat keamanan TNI/Polri yang pada akhirnya terjadi tindakan anarkis yang mengakibatkan jatuhnya korban, maka aparat keamanan yang berdiri membela kedaulatan negaranya dituding sebagai pelangggar HAM, tetapi mereka yang melakukan perlawanan terhadap kedaulatan negara yang sah tidak pernah dipersoalkan bahkan dilindungi,” katanya.

Karena itu, lanjut Kapendam XVII/Cenderawasih, Amnesty Internasional dalam laporannya sangat tidak berimbang dan terkesan hanya mencari-cari kesalahan untuk memojokkan pihak aparat keamanan TNI/Polri. Kenapa mereka tidak membahas tentang kekejaman yang dilakukan oleh pihak KKSB baik terhadap aparat negara maupun terhadap warga sipil yang tak berdosa?.

Sebagai contoh, kata Kol Inf Aidi, penembakan sekelompok orang terhadap pesawat di Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga beberapa hari jelang pemilihan gubernur lalu, tiga warga sipil dilaporkan tewas dibunuh kelompok tersebut. “Termasuk anak kecil umur 6 tahun dibacok setelah kedua ibu dan bapaknya ditembak mati di depannya,” tambahnya.
Pesawat itu, kata Kapendam XVII/Cederawasih adalah fasilitas umum dan merupakan satu-satunya sarana transportasi masyarakat di daerah tersebut yang masih terisolasi namun mereka tembaki. Sehari setelah perayaan Idul fitri yang lalu, aparat TNI yang melaksanakan patroli untuk memastikan pelaksanaan Ibadah Idul Fitri berjalan hikmad dan aman, juga di serang yang mengakibatkan 5 orang prajurit TNI luka parah.

Kol Inf Aidi juga menyebut hilangnya dua anggota polisi di Distrik Torere, Kabupaten Puncak saat mengawal logistik Pilkada pekan lalu. Kepala Distrik orang asli Papua dan seorang pendeta tidak luput mati tertembak oleh KKSB.
“Kami justru jadi korban. Kami bertindak berdasarkan kaidah dan kode etik, serta UU yang berlaku sementara mereka bertindak seenaknya saja tanpa norma dan aturan, mereka tak mengenal combatan dan non combatan, warga sipil bahkan anak kecilpun dibantai tanpa ampun,” kata Aidi seraya menambahkan Semua pelanggaran prosedur dianggap pelanggaran, padahal personel kami membela diri.

Baca Juga:  Babinsa Depok Jaya Ajak Masyarakat Sukseskan Asian Games 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.