Ketika ditanya alasan mengapa bisa masuk calon unggulan, Imron menyampaikan bahwa dimungkinkan karena prestasinya semasa disekolah.
“Waktu SMA, saya mendapatkan nilai sepuluh pada ujian nasional matematika, dan juga pernah ikut olimpiade matematika tingkat provinsi serta aktif di OSIS dan Paskibra,” kata Imron.
Menurut Rudi (24 tahun), kakak dari Imron, bapaknya tidak bisa hadir saat wisuda karena diopname selama 2 bulan sakit hepatitis. Dengan sakitnya sang bapak, maka menurut Rudi perekonomian keluarga sekarang menjadi tanggungjawabnya sebagai kakak tertua.
“Bapak tidak bisa ikut karena sakit hepatitis, sehingga tinggal dirumah. Tadi kita berangkat bersama nenek, ibu dan om Bowo serta saudara naik mobil yang dicharter sehari sekitar 700 ribu, tapi lumayan karena kenal, harganya bisa turun,” tutur Rudi.
Sangat disayangkan memang, disituasi yang penuh kegembiraan, bangga dan haru, acara wisuda Prajurit Taruna Imron tidak bisa dihadiri oleh ayah tercinta. Selain keluarga, saat wisuda juga turut hadir teman-teman sekolah Imron.
“Tapi, tidak apa-apa, karena setidaknya nenek, Ibu dan saya serta om bisa hadir bersama Imron walau sebentar,” pungkas Rudi yang sehari-hari bekerja menjadi tukag servis handphone ini.
Editor : Benz